(Orchidaceae) Paphiopedilum supardii Braem & Lob 1985

Dikenal luas sebagai anggrek sepatu (Lady’s slipper orchid), jenis-jenis anggrek ini ternyata penghuni Appendix I CITES

Paphiopedilum supardii memiliki epitheton yang unik, yaitu berasal dari kata supardi sebagai penghargaan terhadap Bapak Supardi. Paphiopedilum merupakan anggrek yang cukup beragam dan umumnya berbeda di setiap daerah. Di Asia Tenggara dijumpai sekitar 60 spesies dan sebagian besar merupakan spesies yang endemik.

Ciri-ciri: Tumbuh di daerah panas hingga sejuk dengan intensitas cahaya 40-60%; terestrik dan kadang menempel pada batuan kapur di formasi karst; terdapat rambut akar yang banyak dan pendek; daun tersusun berseling, bentuk lanset hingga pita, tapi rata, ujung berbelah tak beraturan, daun sukulen sedikit berserat, pelipatan daun muda duplikatif; pembungaan akrant, majemuk (hingga 10 kuntum), mekar secara bergantian; sepalum dorsal bulat telur, tepi bertrikoma kecil (bila foto macro), berwarna hijau muda dengan motif garis sejajar warna cokelat, sepala lateral menyatu (synsepalum) dengan bentuk dan motif menyerupai sepalum dorsal, petala lateral berbentuk pita, warna hijau muda dengan motif bintik-bintik cokelat, melengkung ke bawah seperti huruf “S”, tepi bergelombang dan bertrikoma; labellum berbentuk seperti kantong (sepatu) berwarna cokelat dengan urat yang terlihat jelas (tapi tidak sejelas p. sangii); gynostemium sangat unik karena memiliki umbo (bagian depan gynostemium yang diperkirakan sebagai modifikasi dari staminodia) yang dikelilingi oleh trikoma cokelat pendek yang banyak, gynostemium memiliki struktur melengkung ke bawah (di bawah umbo) yang menyediakan tempat untuk pollen di bagian kanan dan kiri (Paphiopedilum memiliki 2 stamen atau diandri), di belakangnya dijumpai cekungan stigma atau stigma cavity.

Persebaran: Endemik Kalimantan, tumbuh di dataran rendah hutan hujan tropis pada elevasi 500 – 1000 mdpl. Secara khusus, P. supardii menyukai daerah yang lembab di lantai hutan maupun di tebing.

Sinonim: Paphiopedilum “victoria” devogeli Schoser & Van Deed 1978; Paphiopedilum praestans sensu Van Vloten 1933; Paphiopedilum praestans Van Hell 1938; Paphiopedilum “victoria” de Vogel 1975

Herbarium angggrek ini sudah ada sejak 1915, namun karena bukan sesuatu yang “wah”, sehingga dibiarkan begitu saja. Pada tahun 1975, anggrek ini ditemukan kembali dan diberikan nama P. victoria oleh Eduard de Vogel saat mengikuti Ekspedisi Kalimantan pada 1972, lalu direvisi menjadi P. devogelii pada 1982. Saat kolektor anggrek ikut mengambil andil, kedua nama tersebut ternyata spesies yang berbeda, hingga pada tahun 1985 diverifikasi sebagai P. supardii.

Status: Anggrek ini termasuk dalam Appendix I CITES. Dalam IUCN Red List, P. supardii termasuk dalam kategori Kritis (Critically Endangered) karena sempitnya habitat alami di alam, pertumbuhan dan perkembangan yang lama, serta terjadi penurunan populasi yang signifikan akibat alih fungsi lahan dan pembalakan liar.

Perdagangan: P. supardii memiliki nilai jual yang tinggi baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Secara ex-situ, anggrek ini sudah dikembangkan untuk memuaskan para pecinta anggrek. Diambil dari Kebun Bibit, anggrek remaja ini dijual dengan harga Rp. 150.000,-. Tidak hanya spesies asli yang diperdagangkan, tetapi hibridanya pun tidak luput dari perdagangan. Bentuk bunga yang unik menjadi primadona para pengembang anggrek dan telah menghasilkan setidaknya 13 hibrida resmi.

Sources:
Orchidspecies
Lady Slipper
Slipper Orchids
IUCN Redlist

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s