(Orobanchaceae) Aeginetia indica L.

Tumbuhan ini adalah jenis parasit akar, tepatnya sebagai holoparasit (parasit yang tidak melakukan fotosintesis. Namun, dibalik paradigma buruk sebuah parasit, tumbuhan yang dapat dijumpai di Jawa ini ternyata menyimpan berbagai manfaat, terutama dalam bidang medis. Mari kita mulai dari masa lalu parasit eksotis ini.

Sejarah dan Penamaan

Aeginetia indica merupakan tumbuhan asli India (indica=India) yang tersebar di berbagai negara seperti China, Jepang, Korea, Taiwan, Bangladesh, Myanmar, Bhutan, Nepal, Srilanka, Kamboja, Laos, Thailand, Malaysia, Indonesia, Vietnam dan Filipina. Sebagian besar negara-negara tersebut menamai anggrek ini dengan sebutan “Forest Ghost Flower”, sedangkan masyarakat Indonesia menyebutnya sebagai Kembang Bumi (Sunda), Kembang Pare (Sunda), Peupeut Jangan (Sunda), Ramopujuh (Sunda), Pacing Dawa (Jawa), dan Pacingan (Jawa). Dalam ranah ilmiah, tumbuhan ini memiliki sinonim sebagai A. aeginetia Huth, A. boninensis Nakai, A. indica var. gracilis Nakai, A. japonica Siebold & Zucc., A. mairei H.Lev., Orobanche aeginetia L., Phelipaea indica (L.) A. Speng. ex. Steud.

Inang yang menjadi objek parasit ini biasanya adalah stolon/rhizome dari rumput, alang-alang, dan terkadang pada Zingiberaceae.

Deskripsi

Merupakan parasit herba yang mekar sekali dalam setahun dengan panjang keseluruhan  15-50 cm. Akar lunak dengan banyak rambut akar. Batang tegak, 1-8 cm, tidak bercabang (bila bercang biasanya di pangkal batang), diameter 2-4 mm. Daun berjumlah 1-6, berwarna merah, bulat telur memanjang, ujung runcing, berukuran 5-10 x 3-4 mm, berseling. Pembungaan tunggal pada ujung batang, tangkai bunga kecoklatan-merah. Sepala 1,5-3 cm, berbentuk seperti sendok, coklat kemerahan dengan ujung runcing/meruncing. Petala bersatu (synpetalum) membentuk tabung dengan ukuran 3-5 cm, stamen berjumlah 4, anther berwarna putih-kuning, stylus filiform, stigma besar berwarna kuning. Kapsul oval, berwarna merah, biji berwarna kuning, kecil, bentuk oval.

Kandungan dan Penelitian Farmasi Medis

Memiliki kandungan asam aeginetik, aeginetolide, aeginetoside, polyene dan ionone glikosida, apigenin-7-O-glucoronide (flavonoid ekstraksi dari akar A. indica), dua senyawa baru jenis phenylpropanoid glicoside.

Di Filipina, tumbuhan ini digunakan sebagai obat diabetes, sedangkan di China digunakan sebagai obat liver, batuk, dan artritis. Penelitian di Thailand menunjukkan bahwa akar parasit A. indica yang tumbuh pada bambu memiliki daya immunomodulation yang meransang aktivitas sel T.

Penelitian juga menunjukkan adanya aktivitas antitumor dengan meningkatnya proliferasi limfosit pada mencit. Penelitian tersebut juga dijelaskan oleh Cai et.al. (1992) yang menggunakan ekstrak biji A. indica sebagai anti tumor yang meransang 55kDa protein sebagai agen immunotherapeutic. Publikasinya diterbitkan oleh jurnal Cancer Immunol Immunother.

close up
close up

Ekstrak A. indica juga bisa dimanfaatkan sebagai obat kanker ginjal. Penelitian menunjukkan bahwa ekstrak ini mampu menghambat metastasis sel tumor yang memiliki efek sinergis dengan apoptosis.

Sources:
Orowiki
Wikipedia
Flowers of India
NCBI makalah
ARS grin
Stuart exchange
The Plant List
Flora Pegunungan Jawa (C.G.G.J. van Steenis)

Foto merupakan dokumentasi pribadi

habitat
habitat
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s