[TRIP] Mencari Hujan di Bromo

Menjelang akhir tahun 2014, tepatnya pada tanggal 26 Desember, saya mengunjungi salah seorang teman di Malang. Niat awalnya adalah mendaki ke Gunung Semeru, setidaknya sampai di Ranu Kumbolo dan memutar lagu dari Jono Terbakar yang berjudul “Ranu Kumbolo”. Sayangnya ketika H-1, informasi yang saya terima adalah membludaknya kunjungan ke Gunung Semeru sehingga tidak memungkinkan untuk mendirikan tenda dan bersantai dengan leluasa. Rencana pun diubah menjadi mengunjungi Gunung Bromo.

Tanggal 27 Desember, pukul 13.00 WIB kami (saya dan teman saya, hanya berdua, mengendarai Jupiter Z) memulai perjalanan ke Gunung Bromo. Saat itu sudah memasuki musim penghujan, jadi kami mempersiapkan stamina dan barang-barang dalam “packing basah”. Tidak ada target mencari sunrise, meskipun ini adalah kali pertama saya kesini. Berbeda dengan teman saya yang telah berulangkali jalan-jalan ke Gunung Bromo.

Perjalanan dari rumah teman saya sampai ke pos masuk TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru) sekitar 2 jam. Kami melewati “Jalur Tumpang” yang berliku dan tanpa pembatas jalan. Sampai di pos masuk, hujan sudah turun. Tidak terlalu deras, tapi cukup untuk membuat dingin dan mengaburkan pandangan karena kabut.

Bermodalkan satu jas hujan untuk berdua, kami mulai melanjutkan perjalanan hingga ke persimpangan Ranu Pane. Kanan ke Ranu Pane dan kiri ke Penanjakan untuk menikmati pemandangan Gunung Bromo. Beranjak dari Ranu Pane, jalan yang kami lalui tampaknya tidak compatible dengan Jupiter Z karena terlalu banyak lubang, genangan, dan jebakan lumpur yang -pada akhirnya- membengkokkan pelek ban.

anggrek.jpg
kabut reda, tampak anggrek yang mekar

Jalan yang rusak berhasil dinetralisir oleh pemandangan Bukit Teletubies yang berjajar disepanjang jalan. Tidak ada Nunu disana, juga tidak ada kue tabi.

teletubies 2.jpg
awal-awal melihat bukit teletubies

Perjalanan berlanjut sampai di pembukaan lautan pasir. Dengan kondisi hujan, dapat dibayangkan medan yang kami lalui. Arus deras ditambah dengan pasir benar-benar memerlukan improvisasi dalam mengendarai motor. Singkat cerita, kami berhasil melalui hambatan tersebut, padahal di perjalanan ada 2 mobil Jeep yang terjerembab (sampai kami pulang, satu mobil masih terjebak di lumpur).

Rencana awal kami adalah tidur di aula Tengger. Namun, saat sampai disana ternyata telah ramai dan banyak orang yang berjualan, terutama gorengan. Mengisi perut dengan gorengan seharga Rp. 2000,- cukup membuat kami hangat. Tidur 30 menit di dekat kompor gorengan ternyata mampu meningkatkan stamina. Tidak mau berlama-lama, perjalanan kami tujukan untuk mencari penginapan.

Kami menemukan penginapan standar. Untuk 2 orang kami dikenakan biaya Rp. 100.000,- karena sedang ramai, padahal biasanya hanya Rp. 50.000,- saja. Pukul 18.00 WIB kami tidur dan dibangunkan pukul 03.00 WIB oleh pengelola penginapan.

Kami bangun, melihat hujan masih eksis, lalu memutuskan untuk kembali tidur. Bangun kembali pukul 05.00 WIB dan hujan sudah mulai reda. Tidak ada tendensi untuk mengejar matahari pagi, kami menuju Penanjakan dengan santai. Di pertigaan utama (pusat bertemunya wisatawan dari berbagai jalur), untaian mobil 4WD berbagai merk telah berbaris. Intinya, iki ruamene puol, rek!

Mendapat posisi strategis, saya bersiap untuk mengabadikan pemandangan disana. Dan ternyata kabut menutupi matahari tanpa memberikan sedikitpun celah semburat jingga. Hampir semua penonton sunrise kecewa. Karena kami pikir tidak akan ada momen yang bagus, maka kami buru-buru turun untuk menghindari kemacetan. Saat itulah kami memperoleh pemandangan yang bagus. Gunung Bromo tampak gagah, Gunung Batok tampak mempesona, dan Bukit Teletubies tampak menggoda untuk dijamah. Saat itu belum ada niat untuk naik di kedua gunung tersebut.

warna warni.jpg
warna-warni dedaunan yang sedang tumbuh. foto gunungnya sengaja gak diupload

Suasana ketika turun (pulang) sangat berbeda saat kami berangkat. cuaca cerah dan bersahabat, lighting sangat bagus dan ramah untuk ISO kamera, serta kami bisa memilih jalan di pasir yang padat. Bukit Teletubies berhasil kami hinggapi, dan ternyata hijau-hijau tersebut merupakan paku yang sedang tumbuh dengan subur.

Perjalanan pulang berlangsung lancar dan ditutup dengan nasi pecel + teh hangat, serta sebuah angan-angan untuk mengabadikan sunrise.

tebing.jpg

kiyep.jpg

sembunyi.jpg

teletubies.jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s