Elaiosome – Komponen Biji dalam Persebaran Tumbuhan

Melirik jauh ke zaman kejayaan Linnaeus, para botanis telah melakukan berbagai cara untuk mengelompokkan tumbuhan dan membentuk suatu sistem klasifikasi. Salah satunya adalah dengan menggunakan sebanyak-banyaknya karakter, kemudian dipilih karakter yang bagus dan penting. Diperjelas dalam taksonomi numerik, penggunaan karakter minor mulai dipertimbangkan karena mampu memberikan penjelasan yang lebih mendalam, diantaranya adalah anatomi, sitologi, biokimia sampai genetiknya.

Karakter anatomi memiliki keunggulan yang mutlak dalam hal struktur dan perkembangan, karena menampilkan susunan sel-sel dengan berbagai bentuk dan fungsi. Ditambah lagi dengan adanya mikroskop elektron yang memberikan tampilan lebih detail pada struktur suatu tumbuhan, misalnya pada struktur biji di bawah ini

KPPCONT_069195.jpg
Dari kiri bawah searah jarum jam: greater celandine (Chelidonium majus, Papaveraceae), Lake Logue wattle (Acacia vittata, Leguminosae), sand milkwort (Polygala arenaria, Polygalaceae), sun spurge (Euphorbia helioscopia, Euphorbiaceae), Blossfeldia liliputana (Cactaceae); Tengah: aztec cactus (Aztekium ritteri, Cactaceae). Collection of SciArt images of ant-dispersed seeds

Pada bagian biji tersebut, terdapat komponen yang berada diujung dengan bentuk yang unik. Komponen tersebut adalah penghasil dan penyimpan minyak, yang dikenal sebagai “elaiosome”. Elaiosome (elaion = minyak; soma = badan) tidak hanya mengandung minyak (lipid), melainkan juga kaya akan protein, sehingga menjadi sumber makanan bagi beberapa serangga, seperti semut. Secara anatomi, elaiosome dapat terbentuk dari dua bagian, yaitu dari biji (bagian kalaza, funikulus, hilus, dsb) atau dari buah (karpium, putik, tabung bunga, spikula, dsb).

Secara kontekstual, muncul hipotesis bahwa simbiosis antara semut dengan biji ber-elaiosome mengarah kepada ko-evolusi. Terdapat istilah khusus untuk menggambarkan interaksi ini, yaitu “myrmecochory”. Elaiosome yang bernutrisi tinggi akan menarik perhatian semut untuk membawa biji tersebut ke sarang, kemudian mencerna lipid dan protein di dalamnya. Bagian biji yang menganding embrio telah terlindungi oleh kulit biji yang keras, sehingga tidak mampu dimakan oleh semut dan dianggap sebagai “sisa” atau “sampah”. Bagian berembrio tersebut akan “ditelantarkan” oleh semut, kemudian secara fisologis melalui imbibisi, biji terlantar tersebut akan berkecambah.

Perkecambahan tersebut memberikan dua keuntungan sekaligus, yaitu menjauhkan biji dari predator dan meningkatkan radius persebaran. Peningkatan radius ini secara ekologis akan menurunkan kompetisi interspesies, sehingga sintasan dari tumbuhan tersebut semakin tinggi. See, everything for survivorships, right?

Oh iya, Euphorbiaceae dan Fabaceae (Leguminosae) merupakan suku yang banyak mengandung elaiosome, lho!

ant-carrying-bloodroot-seed-1.jpg woodpoppyel234.jpg

Sumber:
KewRoadsendnaturalist
Wikipedia

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s