[Mendaki part 3] Latihan, Bung!

Bagian terakhir yang harus disiapkan ketika pendakian adalah latihan, mencakup latihan fisik, mental dan pengenalan medan. Satu hal yang harus diingat adalah, “Jangan meremehkan kekuatan alam”. Langit cerah tiba-tiba dapat terselimuti oleh abu vulkanik, misalnya.

1. Latihan Fisik

Latihan fisik ini sangat penting, karena modal utama dari pendakian adalah kekuatan fisik. Latihan yang saya anjurkan adalah jogging atau jalan beban (berjalan dengan tas yang diberi beban). Latihan yang harus dilakukan minimal satu minggu untuk pendakian satu hari, dua minggu untuk pendakian dua hari, dan seterusnya. Analogi tersebut saya dapat ketika latihan dalam pendakian ke Gunung Binaiya, hehe.

Dalam melakukan latihan fisik, jangan terlalu memaksakan diri. Maksudnya, jangan karena ingin memperoleh stamina yang kuat, kalian latihannya terlalu berat hingga cedera. Fungsi latihan ini adalah membangun kekuatan dengan cara membiasakan kerja otot. Setelah melakukan latihan, maka otot akan rusak dan dibentuk kembali dengan ukuran yang lebih besar. Apabila cedera, recovery otot akan berlangsung lama.

Latihan yang baik (jogging) dilakukan di pagi hari untuk memperoleh udara segar. Tetapi, apabila tidak menyukai jogging, bisa melakukan senam aerobik. Intinya, latihan fisik ini untuk memperoleh endurance yang lebih tinggi saat pendakian.

 

2. Persiapan Mental

Melakukan persiapan mental adalah hal yang mutlak. Pendakian memerlukan konsistensi mental yang tinggi. Jangan sampai di perjalanan terjadi perkelahian atau cekcok dengan rekan sendiri. Sumpah, rasanya gak enak banget!

Biasanya egoisme akan muncul dengan sendirinya, apalagi ketika stok bahan makanan telah menipis. Dengan perbekalan mental yang cukup dan ketenangan dalam berpikir, maka hal tersebut bisa diatasi. Contohnya, meminta makanan ke tenda lainnya, memanfaatkan makanan lokal (buah dan umbi-umbian yang tumbuh disekitar lokasi), dan sebagainya. Tapi, kalo pikirannya sudah kacau, maka senggol dikit, bacok!

 

3. Mempelajari Lokasi/medan

Lokasi pendakian harus dipelajari lebih dulu, terutama jalur dan sumber air. Jalur yang berbatu dengan jalur setapak tentunya memerlukan peralatan pendakian yang berbeda. Atau jalur berupa tangga seperti di Gunung Lawu, yang dapat ditemouh dengan memakai sandal. Selain itu, keberadaan sumber air harus diketahui. Apabila di dekat camp ground terdapat sumber air, maka dari pemberangkatan tidak perlu membawa banyak air, sehingga meringankan beban carrier.

Cara singkat untuk mempelajari lokasi adalah melalui catatan perjalanan atau blog-blog yang membahas tentang lokasi tersebut. Misalnya, di Gunung Lawu (sebelum puncak) terdapat warung makan dan sumber air. Jadi, daripada membawa makanan dan minuman yang berat, mending bawa uang buat beli makanan dan minuman dong! Tapi jangan lupa persiapan untuk situasi terburuk, seperti warung-warung tersebut telah TUTUP.

 

Well, itulah hal-hal yang harus disiapkan ketika pendakian (menurut saya). Belajar mengenal alam harus didahului dengan belajar mengenal diri sendiri. Sudah banyak korban jiwa dalam pendakian. Please, daftarnya jangan diperpanjang.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s