[EKOLOGI] Meregangnya Genggaman Pohon

Biopori merupakan “sesuatu” yang sudah umum di masyarakat. Alat pembuatnya pun sudah ada, bisa memilih sesuai selera dalam hal warna, ukuran, dan kualitasnya. Tapi, apakah biopori sesederhana itu?

Saya terlibat diskusi sederhana dengan teman saya. Topiknya ringan saja, tentang pohon dan air. Klise-nya saya mengandaikan kalau air berada dalam genggaman pohon. Semakin banyak pohon, krisis air akan semakin menjauh.

Penebangan hutan, alih fungsi lahan, pembukaan lahan dan berbagai jenis aktivitas manusia yang mengarah ke “Degradasi Habitat” secara langsung telah menurunkan kualitas hutan dan kuantitas tumbuhan yang ada di dalamnya. Menurut saya, eksistensi debit air di hutan maupun gunung tidak hanya masalah banyak atau tidaknya pohon saja, melainkan kesehatan dari ekosistem atau kondisi vegetasinya. Apa sebab?

Sebagai analogi, saya dapat mengandaikan dua jenis lokasi, yaitu kebun jati dan hutan di Gunung Arjuno. Mana yang lebih banyak airnya? Tentunya di Gunung Arjuno. Kenapa?

Dalam siklus air (daur hidrologis), air yang jatuh dalam proses pengembunan (simpelnya: hujan) tidak langsung kembali ke laut. Ada banyak proses yang dilalui oleh rombongan air hujan tersebut. Saya menyebutnya genggaman pohon.

Air yang jatuh di hutan akan mengalami beberapa hal ini:

  1. Mengenai daun, percikannya mengenai “layer” tumbuhan di bawahnya.
  2. Mengalir melalui batang (stem flow).
  3. Mengalir langsung di atas tanah (surface run-off).
  4. Terserap ke dalam tanah melalui biopori.
  5. Terperangkap di porositan bebatuan.

Well, dalam lingkungan yang tidak sehat dan tutupan vegetasinya sedikit, maka aliran permukaan atau surface run-off akan tinggi. Akibatnya tidak hanya air saja yang hilang, melainkan juga mineral dan batuan yang ada diatasnya. Ini yang menyebabkan terjadinya banjir bandang. Air dari atas langsung meluncur ke hilir dengan sangat cepat.

Lalu, bagaimana bila kondisi lingkungannya sehat? Dalam lingkungan yang sehat, maka akan terdapat setidaknya tiga strata vegetasi, yaitu strata satu (top layer), strata dua (middle layer), dan strata tiga (bottom layer). Top layer terdiri dari pohon-pohon yang besar. Pohon besar ini memiliki percabangan akar yang luas, sehingga membentuk jalur biopori air yang luas pula. Air yang jatuh dan mengenai top layer akan diteruskan menuju middle layer, stem flow, dan masuk ke dalam biopori akar.

Keberadaan middle dan bottom layer ditentukan oleh karakter dari top layer. Beberapa pohon memiliki aktivitas alelopati yang mampu membunuh tumbuhan di bawahnya, seperti jati. Meskipun jati merupakan pohon yang besar dengan akar yang luas, daun yang lebar dan mengandung senyawa alelokimia (terutama tanin) akan menghambat perkecambahan vegetasi di bawahnya, sehingga layer yang terbentukĀ  nyaris tidak ada (biasanya hanya ada vegetasi lantai saja).

Lain cerita bila top layer merupakan pohon waru. Pohon waru sangat ramah terhadap vegetasi di bawahnya. Semakin banyak layer yang terbentuk, maka kehilangan air akan semakin berkurang, karena terperangkap di biopori. Biopori tidak hanya menjaga air, melainkan juga menjadi penghambat kehilangan mineral dan bebatuan. Dengan sistem akar (baik pola percabangan maupun membentuk akar banir/papan) tanah tidak akan mudah terlepas atau longsor. Inilah yang disebut dengan “menanam pohon untuk mencegah tanah longsor”.

Oh iya, biopori diartikan sebagai rongga atau pori-pori yang dibentuk oleh makhluk hidup. Sehingga jalur bawah tanah dari semut dan cacing tanah juga termasuk biopori. Ekosistem yang sehat akan menyokong habitat dari semut dan cacing tanah tersebut. Sehingga air tidak hanya berada dalam genggaman sang pohon saja, melainkan juga pada invertebrata tersebut.

 

Semakin Renggang

Kompleksitas biopori dari pohon dalam menjaga air ternyata tidak dapat ditutupi oleh alat pembuat biopori yang biasa kita jumpai. Tidak ada yang salah dengan membuat biopori di rumah, tetapi alangkah baiknya bila kita mulai dengan menanam pohon di pekarangan rumah.

Rasanya sudah menjadi viral bahwa saudara-saudara kita di Garut telah terkena musibah banjir bandang. Sudah menjadi pertanda pula bahwa kita harus mulai perhatian dengan daerah tangkapan air. Sebelum banjir bandang tersebut, di Kulonprogo Yogyakarta juga terjadi musibah akibat meregangnya genggaman pohon, yaitu tanah longsor. Jauh sebelumnya, banjir pun sudah menjadi pengingat rutin untuk mengembalikan kesehatan lingkungan.

Sebagai penutup, saya mengingatkan diri sendiri untuk tidak menganggap remeh kehadiran pohon. Pohon secara tidak langsung telah menggenggam bumi pertiwi. Kalo kata pepatah Cina “Kalau ikan terakhir telah tertangkap dan pohon terakhir telah ditebang, maka kita akan menyadari bahwa uang tidak dapat dikonsumsi”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s