[BIOLOGI] Sejarah Taksonomi Tumbuhan (PART 2)

Sekarang saatnya memasuki bagian kedua, yaitu dimulai dari sistem klasifikasi Linnaeus dan setelahnya. Perkembangan inilah yang memprakarsai taksonomi sebagai sebuah ilmu dasar yang sangat vital.SISTEM KLASIFIKASI LINNAEUS

Carolus Linnaeus (1707-1778), berkebangsaan Swedia, dikenal sebagai Bapak Taksonomi dunia yang ahli dalam bidang botani dan zoology. Dalam bidang botani, buku Genera Plantarum (1737) dan Species Plantarum yang diterbitkan pada tahun 1753 dengan menggunakan tatanama binomial nomenclature merupakan awal mula klasifikasi buatan yang modern. Sistem klasifikasi dari Linnaeus dikenal juga sebagai Sistem Klasifikasi Seksual karena berdasarkan jumlah dan susunan jenis kelamin tumbuhan.

Tahun 1754 diterbitkan buku Species Plantarum edisi kelima yang membahas tentang penamaan, kemudian dikenal sebagai International Code of Botanical Nomenclature. Buku tersebut memuat aturan-aturan penamaan biner (binomial) yang terdiri dari nama marga dan nama penunjuk spesies (sistem ini lebih efisien dibandingkan sistem polynomial yang dicetuskan Ray). Penamaan marga beberapa spesies tumbuhan menggunakan nama dari botanist yang telah banyak berjasa, seperti Theophrasta, Dioscorea, Fuchsia, Lobelia, Bauhinia, Rajania, dan Linnaea.

https://books.bibliopolis.com/books/images/clients/jamescumminsbookseller/255636.jpg https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/f/f0/Ehret-Methodus_Plantarum_Sexualis-original.jpg

Di Inggris, W. Hudson menerbitkan Flora Anglica (1762) dengan sistem binomial, padahal sebelumnya Inggris menganut sistem polymial. Di Prancis, Sistem Klasifikasi Seksual tidak diterapkan, namun sistem binomial-nya digunakan oleh taksonom-taksonom. Disisi lain, murid-murid dari Linnaeus (W. Curtis, J. Banks dan J.E. Smith di Inggris, dan J.F. Ehrhard, P.C. Fabricius, P. Forsskal, P. Kalm, P. Loefling, D.C. Solander dan C.P. Thurnberg) melakukan eksplorasi di seluruh penjuru dunia dengan menerapkan sistem yang telah dicetuskan oleh Linnaeus.

J.E. Smith membeli koleksi karya keluarga Linnaeus setelah kematian Carl Junior (anak Linnaeus) dan kemudian membangun Linnean Society of London di Inggris (1828) yang menyimpan seluruh karya dari Linnaeus.

Sistem klasifikasi Linnaeus semakin mendominasi taksonomi dunia, seperti pada buku English Botany (1790-1814) oleh J.E. Smith. Edisi keempat dari Species Plantarum (1797-1830) dipersiapkan di Berlin oleh C.L. Willdenow yang mencakup 16.000 spesies (dan memiliki monograf lengkap dari Poaceae).

 

SISTEM KLASIFIKASI SETELAH LINNAEUS

Meskipun sistem yang dibuat oleh Linnaeus sangat bagus, namun masih terdapat beberapa kelemahan, sehingga memunculkan sistem klasifikasi yang baru, seperti sistem klasifikasi alami pasca Linnaeus, sistem filogenetik setelah Darwinian, sistem fenetik modern, dan sistem filogenetik modern.

Sistem Klasifikasi Alami pasca Linnaeus

Sistem Klasifikasi Seksual Linnaeus sangat popular karena sederhana, namun penerapannya tidaklah semudah itu. Untuk memperbaikinya, tahun 1764, Linnaeus menerbitkan Genera Plantarum edisi keenam yang berisi 58 daftar urutan alami, yang pada saat ini dikenal sebagai famili atau suku. Perkembangan selanjutnya, pada abad ke-18, M. Adanson (1727-1806), A.L. de Jussieu (1748-1836) dan J. de Lamarck (1744-1829) sudah meninggalkan sistem klasifikasi tersebut. Adanson menerbitkan Families de Plantes (1763) yang berisi tentang klasifikasi yang menggunakan sebanyak-banyaknya karakter dan setiap karakter diberikan bobot yang sama. Pendekatan ini lebih dikenal sebagai pendekatan empiris.

A.L. de Jussieu membagi isi dari Genera Plantarum menjadi 3 bagian, yaitu Acotyledons (Cryptogamae dan beberapa Monocotyledones yang salah penempatan), Monocotyledones, dan Dicotyledones (Dicotyledones dan Gymnospermae). Pembagian secara keseluruhan dibagi dalam 15 kelas dan 100 famili. Inilah yang menjadi awal mula klasifikasi modern.

Lamarck melakukan terobosan pada identifikasi. Sistem klasifikasi yang telah banyak dikembangkan tidaklah efektif untuk digunakan dalam proses identifikasi, sehingga Lamarck merancang sebuah metode identifikasi yang sederhada dan efektif, yaitu dengan pernyataan dikotomi (kunci dikotomi).

Abad ke-17, N. Grew dan M. Malpighi merupakan ahli anatomi yang menginsprirasi R.J. Camerarius dalam mempublikasikan stamen dan karpel atau daun buah. T. Fairchild pada 1717 memproduksi interspesifik hybrid dalam skala percobaan. Hal ini memperlihatkan bahwa detail mengenai kelamin pada tumbuhan baru dipelajari sangat sedikit, bahkan pada tumbuhan berspora belum diketahui.

Abad ke-19, R. Brown mengamati detail pada morfologi bunga beberapa kelompok dan mengetahui biji terbuka pada tumbuhan Gynospermae, serta menemukan inti sel secara alami. W. Hofmeister menjelaskan tentang siklus hidup tumbuhan berspora, khususnya lumut. E. Strasburger mengamati adanya fusi seksual pada tumbuhan tingkat tinggi.

A.P. Candolle (1778-1841), botanist dari Swiss, berkontribusi sangat besar pada perkembangan sejarah klasifikasi. Ia adalah orang pertama yang mencetuskan kata taxonomy dan membuat prinsip-prinsip klasifikasi, serta membagi tumbuhan menjadi 2 bagian, yaitu seluler (non-vaskuler) dan vaskuler. Hasil karyanya yang terkenal adlaah Prodromus Sistematis Naturalis Regni Vegetabilis (1823-1873) yang mencakup 58.000 spesies dikotil dalam 161 famili. Ini merupakan monograf dikotil terlengkap, sayangnya untuk tumbuhan berspora dan monokotil ditak tercakup di dalamnya.

Sistem dari de Candolle digunakan dan dikembangkan oleh J. Lindley (1799-1865), A.T. Brongniart (1801-1876) dan S.L. Endlicher (1805-1849). Endlicher membagi tumbuhan menjadi Thallophyta (alga dan fungi) dan Cormophyta.

Klasifikasi alami trakhir yang berpengaruh besar adalah Genera Plantarum (1862-1883) oleh G. Bentham (1800-1884) dan J.D. Hooker (1817-1991) yang hanya berisi tumbuhan berbiji, namun telah membedakan kelompok-kelompok Monocotyledones, Dicotyledones dan Gymnospermae. Tumbuhan dikotil dibedakan lagi menjadi Polypetalae (petala bebas), Gamopetalae (petala menyatu), dan Monochlamydeae (tidak memiliki petala).

Disisi lain, perkembangan tumbuhan berspora dalam klasifikasinya sangat lambat. Lycopodium digolongkan dalam lumut, pakis aji ke dalam paku, Salvinia ke dalam lumut, dan Equisetum termasuk tumbuhan conifer. Tahun 1813, de Candolle mengelompokkan Pteridophyta ke dalam kelompok yang terpisah. Selanjutnya pada 1843, Brogniart membagi tumbuhan menjadi Cryptogamae dan Phanerogamae, sedangkan A. Braun (1864) mengenalkan Bryophyta (alga, fungi dan lumut), Cormophyta (paku) dan Anthophyta (tumbuhan berbiji).

 

Sistem Filogenetik pasca Darwinian

Setelah evolusi dicetuskan ke public, taksonom mulai berpikiran bahwa perkembangan tumbuhan di bumi yang telah mengalami evolusi tentunya bisa ditunjukkan oleh klasifikasinya. Inilah yang mendasari konstruksi klasifikasi filogenetik. Namun, belum ditemukan alur evolusi dan metodenya menjadi hambatan dalam perkembangan ini. Solusi yang digunakan adalah menggunakan bentuk yang sangat sederhana sebagai bentuk primitive (awal) dan bentuk yang lebih maju sebagai perkembangannya. Metode ini menghasilkan monophyletic dan polyphyletic yang selanjutnya ditambah oleh paraphyletic.

A.W. Eichler (1839-1887) mulai mengenalkan ke public tentang sistem klasifikasi filogenetik yang diawali dengan dua kelompok besar, Cryptogamae dan Phanerogamae, yang berevolusi dari Thallophyta, Bryophyta, Ptridophyta, Gymnospermae dan Angiospermae. Ide dari Eichler berpengaruh besar pada H.G.A. Engler (1844-1930) yang mendominasi dunia taksonomi tumbuhan pada abad ke-20. Engler membagi tumbuhan menjadi Embryophyta Asiphnogamae dan Embryophyta Siphonogamae. Tumbuhan berbunga berkembang dari monokotil ke dikotil (Archichlamydae/Choripetalae/Polypetalae à Metachlamydae/ Sympetalae/Gamopetalae). C.E. Bessey (11845-1915) merevisi klasifikasi Gymnospermae dan Pterydophyta dari Engler, dilanjutkan oleh H. Hallier (1868-1932) yang berargumen bahwa perkembangan monokotil menjadi dikotil adalah keliru. Beberapa taksonom pada tahapan selanjutnya merevisi kembali bahwa dikotil berkembang lebih dulu kemudian dilanjutkan oleh monokotil.

Hutchinson memiliki pandangan berbeda terhadap dikotil, yaitu didasarkan pada bentuk hidup umumnya, yaitu berkayu (Lignosae) atau herba (Herbaceae). Selain itu, ia juga merevisi beberapa famili. Verbenaceae dan Lamiaceae dianggap telah mengalami evolusi konvergen (karakter spesifiknya sama, namun bersal dari nenek moyang yang berbeda). Kebalikannya adalah evolusi paralelisme yang merupakan terbentuknya spesies yang berbeda padahal memiliki nenek moyang yang sama.

Bessey, Hutchinson dan K.R. Sporne merupakan taksonom yang merekonstruksi sifat primitif dan sifat maju. Sporne bahkan menggunakan referensi dari fosil untuk memperoleh data mengenai karakter utama tumbuhan primitif, kemudian memberikan skor 0 untuk sifat tersebut dan skor 100 untuk sifat yang maju. Pada perkembangan selanjutnya, analisis hubungan filogenetik mulai dipresentasikan oleh dendrogram yang disebut cladogram, phylogenetic tree, atau phylogram. Sedangkan bila yang digunankan adalah persamaan sifat fenetik, dendrogram yang dihasilkan disebut phanerogram. Aksis vertical pada phylogram menunjukkan waktu evolusi, sedangkan pada phanerogram menunjukkan kemiripan sifat.

Sporne membuat ilustrasi “penglihatan oleh mata burung” dalam merepresentasikan filogenetik dari dikotil, sedangkan Dahlgren dalam bentuk diagram yang lebih lengkap (terdapat cabang dari nenek moyang). Bentuk kladogram yang umum digunakan pada saat ini adalah bentunk yang dikembangkan oleh Huxley yang terdiri dari level atau tingkatan (grade) dan garis waktu filogenetik (clade). Sistem klasifikasi ini diikuti oleh perkembangan biologi di bidang mikromorfologi, genetika, sitology, biokimia dan juga perkembangan alat-alatnya, seperti mikroskop electron, kromatografi dan spektrometri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s