[EKOLOGI] Apa “update” Terkini dari Global Warming?

Saya mengawali pagi tadi dengan segelas kopi + krimer, hal yang tidak biasa saya lakukan. Menyeruput campuran tersebut ditemani dengan film Ultraman di Waku Waku Japan TV membuat saya serasa kembali bernostalgia dengan masa lalu. Khas generasi 90an. Melayang jauh ke masa lalu, saya sangat senang dengan film hewan. Ya, usai menonton Ultraman saya akan mengalihkan channel ke NatGeo Wild.

NatGeo memang menyajikan sebuah serial dokumenter dengan amat menarik. Dalih ingin bersenang-senang melihat hewan-hewan lucu, saya malah diajak berpikir dan merenung. Topik-nya tentang pemanasan global, diberi tajuk “MONSTER JELLYFISH”.

Image result

Objek utamanya adalah Ubur-ubur Nomura. Bermula dari keresahan nelayan Jepang yang bernama Isobe karena jaringnya dipenuhi dengan ubur-ibur Nomura, sejumlah peneliti (bahkan sampai koki) berusaha memecahkan permasalahan tersebut. Isobe mengalami penurunan hasil tangkapan yang sangat drastis. “Blooming” ubur-ubur telah mengalahkan ikan dalam berkompetisi memperebutkan plankton.

Image result

Seorang Profesor yang bernama Uye mencoba mencari tahu apa yang terjadi dengan blooming ubur-ubur Nomura. Prof. Uye mengukur tubuh ubur-ubur tersebut. Hasilnya, ukuran ubur-ubur tersebut lebih kecil daripada ukuran normal. Tetapi, jumlahnya sangat banyak!

Prof. Uye melakukan uji coba mengembangbiakkan ubur-ubur Nomura di laboratoriumnya. Telur ubur-ubur ditempatkan di air laut dengan suhu yang disesuaikan dengan suhu saat ini (suhu laut menjadi semakin panas). Telur-telur tersebut berhasil menetas dan menghasilkan larva yang dipenuhi dengan silia untuk bergerak. Selanjutnya, menuju ke fase paling kritis, larva tersebut akan tenggelam ke dasar dan membentuk polip. Hal yang mengejutkan adalah peningkatan suhu menyebabkan perkembangan polip menjadi sangat cepat. Perkembangan yang cepat diikuti dengan produksi ubur-ubur yang semakin banyak. Semakin banyak ubur-ubur, maka kompetisi intra- dan inter-spesies akan semakin tinggi. Inilah yang menyebabkan ubur-ubur tersebut memiliki ukuran yang lebih kecil dari ukuran normalnya.

Pemanasan global telah mengubah ubur-ubur menjadi spesies yang berpotensi merusak ekologi laut. Terbang jauh ke Cina, masyarakat Cina telah memanfaatkan ubur-ubur sebagai makanan. Ini menginspirasi sang koki asal Jepang, Fukoda, untuk mengolah ubur-ubur menjadi makanan, sehingga nelayan tidak akan merugi.

Fukoda melakukan berbagai eksperimen untuk mengolah ubur-ubur menjadi suatu makan yang sangat enak. Beberapa masyarakat menyambut antusias, tetapi sebagian besar tampaknya belum siap.

Isobe mulai putus asa. Kapal ikannya ditangguhkan di daratan. Dia merasa malu karena tidak seharusnya nelayan ada di daratan.

Ancaman tidak hanya pada Isobe, melainkan pada seluruh Jepang. Yasuda menyatakan bahwa ubur-ubur Nomura saat ini hanya bergerak melintasi Jepang. Tetapi, bila ubur-ubur tersebut berhasil beradaptasi dan berkembangbiak, maka Jepang akan menjadi habitatnya. Ini tentu tidak baik karena ubur-ubur Nomura akan menjadi sangat invasif. Efek luasnya adalah munculnya DEATH ZONE. Secara singkat, death zone merupakan zona yang tidak dapat dimanfaatkan oleh manusia.

 

sumber: National Geographic Wild.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s