[BOTANI] Warisan Budaya Indonesia yang Dibanggakan itu ETNOBOTANI

Sebuah acara talkshow yang pernah diselenggarakan di Fakultas Biologi UGM adalah talkshow mengenai etnobotani dengan judul “Etnobotani Indonesia: Potensi dan Pemanfaatan Berkelanjutan“. Acara tersebut merupakan sebuah sistem memori yang mengajak kita untuk merefleksikan diri. Istirahat sejenak dari kencangnya arus modernitas penelitian untuk mengenal simbol-simbol warisan nenek moyang kita.

Terdapat tiga pembicara pada acara tersebut. Saya akan membahas yang pertama, yaitu dari Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa Putra, M.A., M.Phill. yang merupakan guru besar Fakultas Ilmu Budaya UGM. Beliau menceritakan tentang etnobotani sebagai warisan budaya dan jati diri bangsa. Then, how to realize that we really the big country, a symbol of megabiodiversity?

Negara megabiodiversitas tidak hanya bicara tentang luas lahan, jumlah spesies flora-fauna, maupun posisi strategis di tropis, melainkan juga tentang aturan lokal (adat) dalam menjaga sumber daya alam tersebut. Negara besar, seperti Amerika, memiliki lahan yang luas, endemisitas spesies yang tinggi, namun tidak memiliki sistem manajerial sumber daya alam. Ketika industri masuk, hampir semua daerah “latah” melakukan alih fungsi lahan.

Kembali ke Indonesia, etnobotani sebagai ilmu yang mempelajari tumbuhan (botani) dalam lingkup daerah lokal dan tradisional (ethno) ternyata menjadi kunci untuk mengenal jati diri bangsa. Etnobotani seolah-olah merupakan warisan yang berharga, sehinggga diwariskan dengan sangat hati-hati dari generasi ke generasi.

Perlu contoh? Prof. Heddy menyampaikan bahwa di Surakarta terdapat Serat Centini yang menyampaikan teknik dan bahan obat dalam penyembuhan penyakit melalui tembang atau lagu. Jadi, hanya orang yang paham terhadap lagu dan Bahasa Jawa Kuno yang mampu mengekstrak informasi tersebut.

Prof. Heddy sangat menekankan pada penggunaan bahasa dalam pewarisan etnobotani. Bahasa merupakan simbol kolektif untuk menyusun suatu pengetahuan kolektif. Dalam kaitannya, kolektivitas tersebut diwujudkan dalam istilah/nama tumbuhan, sistem klasifikasi artifisial, dimensi klasifikasi, dan sebagainya.

Bahasa merupakan gerbang utama dalam memasuki etnnobotani. Informasi dapat tersebar luas secara merapa di suatu daerah, seperti penggolongan ubi yang bisa dikonsumsi dan beracun di Papua. Hampir seluruh masyarakat Papua mengetahui jenis-jenis ubi yang layak dikonsumsi. Atau seperti di daerah Sumatera, misalnya Padang, yang fasih menggolongkan jenis-jenis kelapa untuk dikonsumsi. Tentunya kompleksitas klasifikasi di Papua terhadap ubi dan di Padang terhadap kelapa akan berbeda dengan daeerah lainnya.

Di daerah lain, informasi pemanfaatan tumbuhan dapat menjadi sangat terbatas, terutama dalam pengobatan. Di Kalimantan, terdapat tabib yang mengetahui jenis-jenis dan campuran tumbuhan untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Hal serupa juga dapat dijumpai di Bali dengan sebutan “Balian” atau di Jawa yang dikenal sebagai “Dukun”.

Etnobotani di Indonesia memang harus diakui eksistensinya hingga saat ini merupakan andil besar dari kebudayaan. Kita bangga sebagai negara dengan 740an suku bangsa telah mampu menjaga kearifan lokal dalam memanfaatkan tumbuhan. Tetapi, etnobotani tidak berhenti sampai disitu saja. Pergerakan dunia yang dinamis mendorong untuk meningkatkan status etnobotani dari “lokal” menjadi “global” dengan cara menjadikannya sebagai JATI DIRI bangsa. Negara-negara maju sudah mulai bereaksi terhadap hakl ini. Jepang mengidentikkan diri dengan teh hijau dan taro, Korea identik dengan ginseng (meskipun produsen utama ginseng bukan Korea), Thailand khas dengan segala buah yang berlabel “bangkok”, Perancis memonopoli istilah wine, Arab dengan maskot kurma-nya, Belgia yang identik dengan cokelat, dan sebagainya.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Kita sebenarnya tinggal pilih saja. Ada ubi cilembu, lidah buaya kalimantan, ubi dan kasbi papua, kopi nusantara, durian medan, durian pelangi kalimantan, cabai sulawesi, dan masih banyak lagi. Tetapi, apa yang menjadi kendala? Jawabannya retorika sekali, yaitu minimnya konsumsi dan kebanggaan terhadap produk lokal.

Mari bersama introspeksi diri, mulai mengenali produk lokal, mulai mengkritisi hasil anak bangsa. Jangan sampai etnobottani Indonesia di-klaim oleh negara lain, karena genrasi demi generasi telah berguguran untuk menjaga hal tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s