[BOTANI] Etnomedicine, Shortcut Penelitian Farmakologi Terkini

Pembicara ketiga pada talkshow etnobotani adalah pakar farmakologi dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tumbuhan Obat dan Obat Tradisional (B2P2TO-OT a.k.a. BPTO) Tawangmangu, Ibu Yuli Widiyastuti. Beliau mengulas mengenai penelitian obat tradisonal di Indonesia, serta potensi dan langkah kedepannya.

Sedari awal, Ibu Yuli membawakan materi dengan sangat friendly dan padat informasi. Tidak jarang setiap poin yang beliau sampaikan mengundang pertanyaan dan rasa ingin tahu peserta talkshow.

Drug Discovery and Drug Development merupakan poin pembuka. Pada poin ini, Ibu Yuli menekankan mengenai perkembangan penelitian farmakologi di dunia yang sangat lambat, terutama pada tahap awal, yaitu eksplorasi senyawa bioaktif pada tumbuhan. Selain memerlukan waktu yang lama, biaya yang dikeluarkannya pada tahap tersebut sangat besar, sehingga diperlukan sebuah pendekatan yang lebih realistis. Pendekatan ini yang akan mendorong trend penelitian farmakologi meningkat tajam. Pendekatan tersebut adalah ETNOBOTANI.

Etnobotani ibarat sebuah shortcut, jalan pintas super efisien untuk penelitian farmakologi. Di China, penemuan senyawa anti-malaria, artimisinin, ternyata berawal dari penelitian etnobotani. Perkembangan dan meluasnya pendekatan etnobotani untuk penelitian obat-obatan mendorong ilmuwan-ilmuwan mengkhususkan diri dalam sebuah ruang lingkup baru, yaitu ETNOMEDICINE. Etnomedicine tidak hanya membutuhkan skill farmakologis, melainkan juga skill biologis, sosiologis, dan kebudayaan.

Booming dan tingginya minat penelitian etnomedicine di dunia ternyata dapat menjadi ancaman bagi negara tropis, seperti Indonesia. Indonesia yang menyimpan berbagai tumbuhan eksotis nan unik, serta kebudayaan setiap suku bangsa yang karakteristik, mampu menjaga kearifan lokal dalam pengelolaan sumber daya dan menjaga rahasia “resep” obat-obatan mujarab. Resep tersebut menjadi incaran empuk negara-negara lain yang ingin menguasai pasar obat-obatan.

Langkah pencegahan yang dilakukan oleh pemerintah, terutama BPTO adalah melalui RISTOJA. RISTOJA merupakan kependekan dari Riset Tanaman Obat dan Jamu, yang bertugas menghimpun data mengenai tanaman obat di seluruh pelosok Indonesia dan meng-ilmiah-kan hasil tersebut. Ilmiah yang dimaksud adalah memcari senyawa bioaktif serta melakukan penjagaan sumber daya. Penjagaan sumber daya dilakukan menggunakan DNA fingerprinting, sehingga mencegah terjadinya pembajakan materi genetik (biopiracy) yang gencar dilakukan oleh negara-negara adidaya.

Sebagai penutup, Ibu Yuli menyampaikan bahwa etnomedicine di Indonesia memerlukan peran serta masyarakat yang sangat kuat, seperti dengan mengkonsumsi jamu. Beliau menyampaikan bahwa minuman-minuman di pasaran sebaiknya divariasikan dengan minuman tradisional. Lebih lanjut, beliau berceletuk “kita mungkin bisa mengganti coffee break dengan jamu break“.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s