[BOOK REVIEW] Sains-Fiksi Terbaik Karya Dan Brown

Dan Brown? Lagi?

Yapp! Saya memang sedang berkutat dengan novel dari Dan Brown. The Lost Symbol membawa saya mulai menilik karya seni klasik, meskipun saya tidak menemukan apa-apa, tidak semenarik narasi dari Dan Brown. Selanjutnya, saya beralih ke DECEPTION POINT. Novel ini benar-benar mind-blowing dan membuat saya berpikir di setiap plot twist-nya. Novel ini secara umum memadukan unsur-unsur dunia, yaitu geologi, biologi, dan politik,

Tokoh utama dalam novel ini adalah Rachel Sexton, seorang analis NRO dan sekaligus putri dari senator Sedgewick Sexton. Konflik dimulai ketika Rachel mendapat tugas dari Presiden Herney untuk melakukan verifikasi data atas temuan NASA. Temuan ini akan meningkatkan elektabilitas Herney dalam pencalonan presiden selanjutnya, di lain sisi, saingan terberat Herney adalah ayah Rachel, senator Sedgewick Sexton.

EARLY NARRATIVE

Plot cerita pada Deception Point berkisah tentang penemuan meteorit di Arktik yang terpendam sedalam 60 meter di bawah lapisan es. Meteorit tersebut diteliti oleh ilmuwan non-pemerintah, mencakup peneliti laut, ahli geologi, dan analis NRO (Rachel Sexton). Semua ilmuwan tersebut meneliti keaslian meteorit yang dinyatakan menghantam bumi 300 tahun lalu. Keistimewaan meteorit tersebut adalah menunjukkan adanya kehidupan di luar angkasa. Pada akhirnya, Rachel memberikan verifikasi tersebut untuk menyakinkan warga Amerika Serikat tentang hasil penelitian NASA.

Semua ilmuwan dan teknisi NASA berpesta atas keberhasilan tersebut. Gemerlap lampu menyinari sisi jauh lubang penggalian meteorit, sehingga hanya menyisakan ruang gelap. Pada saat itu, warna berpendar muncul dari dalam lubang. Itu adalah jenis organisme hidup berpendar (bioilluminescence), jenis Dinoflagellata yang tidak seharusnya ada di dalam lapisan es setebal 90 meter. Dari sinilah konflik dimulai, keberadaan meteorit mulai ditanyakan!

Bioilluminescence di pantai

 

 

MID CONFLICT

Keaslian meteorit tersebut mulai dipertanyakan oleh Rachel, dia menghubungi bos-nya di NRO, William Pickering. Perpecahan kubu merekah ketika penasehat presiden, Marjorie Tench dan pimpinan NASA tidak berada dalam satu sisi dengan Pickering. Konflik dan teror mulai terjadi. Rachel dan rekannya mulai diincar Delta Force untuk dibunuh. Sedangkan di balik meja, Sedgewick Sexton mulai memikirkan strategi untuk meningkatkan dukungan sambil menjatuhnya presiden petahana.

Plot twist terjadi disini, di kapal salah satu rekan Rachel, seorang dokumenter sekaligus ahli kelautan, Michael Tolland. Mereka mengkonfirmasi spesies makhluk luar angkasa yang ada di pecahan meteorit tersebut di kapal Tolland yang dinamai Goya. Puncak konflik ini menyebabkan saya tidak berhenti membaca!

END STORY

Cerita diakhiri dengan sebuah pengorbanan diri dan harga diri Ashe. Terselip nilai kewarganegaraan, korupsi, dan politik taktis yang saling beradu di pagi hari pada akhir cerita. Disinilah bagian yang paling mengganggu menurut saya. Ending cerita yang mudah ditebak dapat menjadi ekor kuadratik sebuah cerita. Meskipun saya anggap ending-nya buruk, bagian awal, pertengah, sampai “menjelang” akhir sangat menegangkan dan menambah informasi. Informasi dari novel yang terbit pada 2001 ini belum tentu sudah kalian dengar pada 2018.

selamat membaca!

Advertisements

[OPINI] Latah Kopi, Wi-Fi, Eksistensi, dan Nomaden

Akhir-akhir ini saya merasa mudah jenuh. Sebentar lagi kuliah saya akan genap sewindu, dan itu menjadi pemicu segala hal buruk dari hal baik yang ada di sekeliling saya. Banyak waktu yang terbuang, banyak mood yang berubah drastis, dan banyak pekerjaan yang tidak tersentuh. Saya merasa putus asa, jenuh maksimal.

Teringat kemudian tentang polah para content writer, logo designer, dan berbagai pekerjaan freelance yang dikerjakan oleh wisatawan di Bali. Hey, kalian berwisata tetapi membawa pekerjaan? Tampak aneh, tapi ternyata keanehan tersebut ada pada saya. Mereka bukan bekerja saat liburan, tetapi liburan saat bekerja. See the differences?

Wisatawan yang datang ke Indonesia sebagian besar merupakan wisatawan sukses. Dan menuingkatnya penggunaan akses data nirkabel dan koneksi internet yang menjangkau berbagai wilayah di dunia, perkembangan freelancer semakin menjamur. Banyak anak muda yang sudah memiliki bisnis sendiri, terlepas dari permasalahan pajak mengenai pendapatan yang diperoleh secara onlineLalu, mengapa bekerja di Bali?

Sepertinya budaya bekerja kembali ke esensi zaman kuno, NOMADEN. Ya, berpindah-pindah! Saya mungkin mengalami hal yang sama dengan mereka, merasa jenuh di tempat kerja. Mereka ke berbagai destinasi wisata, khususnya di Indonesia, sambil melakukan berbagai pekerjaan, setidaknya sekedar memanjakan diri. Inilah salah satu teka-teki dalam hidup saya yang mulai terjawab: Mengapa para wisatawan mancanegara yang liburan di kawasan Ubud banyak menghabiskan waktunya di cafe untuk bermain laptop maupun membaca buku.

Kejenuhan dalam bekerja sudah disadari sejak dulu, terutama oleh pemeran industri kreatif, ambil saja Yahoo! dan Google yang setengah mati menciptakan ruangan kerja senyaman mungkin, dilengkapi fasilitas hiburan hingga olahraga. Hal ini juga diterapkan oleh BukaLapak.

Kehidupan nomaden yang baru saya sadari sudah terjadi selama bertahun-tahun lau, bahkan berdekade-dekade yang lalu. Tidak banyak yang menyadari karena pada saat itu belum banyak tempat yang menyediakan fasilitas yang menenangkan untuk bekerja. Di Bali? mungkin hanya Ubud yang bisa saya katakan memenuhi kriteria tersebut. Alasan lainnya adalah pada zaman dulu belum banyak kedai kopi, atau yang diterima oleh kid zaman now sebagai kafe.

little talks ubud, ubud cafe, cafe, restaurants, bali, information

Kafe identik dengan kopi dan aktivitas bersantai untuk sekedar menenangkan diri maupun nongkrong bersama teman-teman lainnya. Latah kopi di negeri ini sudah semakin menjamur. Banyak kedai kopi yang dibuka dengan berbagai konsep unik untuk menarik pengunjung, minimal sekedar selfie dan memperbarui status di media sosial. Kafe yang menyajikan kopi yang enak lambat laun akan lenyap apabila tidak mampu menyajikan konsep yang unik untuk menggaet pengunjung.

Paradigma yang berkembang adalah anak muda maupun anak yang baru menyentuh media sosial adalah public enemy para pecinta kopi dan para kaum nomad yang kebetulan mengerjakan proyek di kafe itu? Salahkah para anak muda ini? Saya rasa tidak!

Pemilik kafe melengkapi tempatnya dengan berbagai aksesoris yang unik, bahkan ada yang menyediakan binatang peliharaan (seperti kucing), serta ditambah dengan akses nirkabel (WiFi) yang kencang. Tujuannya adalah untuk menggaet pengunjung yang hanya datang dan pergi dalam hitungan kurang dari 1 jam. Mereka datang, pesan es cokelat, cappucino, atau mocca, lalu update status, minum habis sambil main hape, lalu langsung pulang. Profit bertambah.

Dan, kemana kaum nomaden berada?

Mereka lambat laun tergusur ke kafe yang lebih eksklusif. Starbucks adalah tempat yang pas untuk mengerjakan proyek. Tampaknya Jerry Baldwin,  Zev Siegl, dan Gordon Bowker sudah memahami ada keterkaitan antara kopi, karyawan, dan freelancer. Starbucks juga melakukan seleksi terhadap pembelinya, sehingga yang akan menikmati fasilitasnya adalah orang dengan ekonomi atas, setidaknya paham bahwa biaya yang dibayar untuk segelas kopi maupun blended setara dengan nilai pekerjaan yang dilakukannya.

Bagaimana dengan J.Co? J.Co memiliki donat yang enak, dan kopi yang gak kalah dengan Starbucks, meskipun non-coffee blended yang disediakan sangat terbatas. Sayangnya, J.Co memiliki banyak penggemar yang hanya mengobrol dan menumpang duduk saja. Ya, J.Co lebih terbuka, tanpa sekat seperti Starbucks, sehingga banyak yang memanfaatkan kursinya untuk beristirahat setelah shoppingShopping? Yapp, konteks yang saya angkat adalah J.Co yang ada di mall.

Cuman Starbucks kah? Tentu tidak. Excelso juga memiliki konsep yang sama, ada Maxx Coffee juga yang memberikan variasi pilihan. Belum lagi kafe lokal yang sadar akan kualitas kafe dan mengantisipasi penggila selfie yang terkadang sadis memperlakukan properti kafe.

Bentar, Dunkin Donuts gak termasuk? Minumannya gak enak dan donatnya keras, saya tidak suka. Ini opini saya pribadi. Saya menempatkan Dunkin keluar dari 10 tempat favorit nomaden saya, hehehe.

Latah kopi, hastrat untuk menunjukkan eksistensi, keberadaan free WiFi yang lebih diincar dari dosen pembimbing, dan ketertarikan pada kaum nomaden sudah memberikan warna pada hidup saya selama beberapa tahun terakhir ini. Apakah saya memiliki hastrat eksistensi yang tinggi? Tidak juga, subjudul tersebut untuk orang-orang yang lebih banyak saya jumpai saat ketak-ketik keyboard.

Latah kopi bukan hal yang buruk. Saya sangat menyukai banyaknya kafe yang bisa saya pilih untuk melarikan diri dari Dunkin. Maafkan saya Dunkin, tapi sebaiknya Anda meracik kopi yang lebih enak, setidaknya samakan mesin espresso milik Anda dengan J.Co.

[BOOK REVIEW] Self Reflection from Dan Brown’s THE LOST SYMBOL

The Da Vinci Code, siapa yang tak kenal film tersebut. Tetapi bukunya? saya yakin pembaca bukunya tidak sebanyak penonton film-nya. Bahkan tidak banyak juga penonton tersebut yang mengetahui penulis novelnya, Dan Brown.

Dan Brown merupakan seorang mistery writer dengan berbagai riset di dalamnya, yang terkadang membuat kita dibingungkan antara fakta dan fiksi. Organisasi, sekte, kultus, maupun perkumpulan lainnya adalah nyata, fakta, tetapi alur cerita yang timbul entah fakta maupun fiksi. Sebagai seorang novelis misteri dengan berbagai rahasia, saya rasa novel ini sangat cocok untuk penggemar seri detektif, seperti Sherlock Holmes, namun dengan sedikit kasus pembunuhan.

Beralih ke salah satu novelnya yang dipublikasikan tahun 2009 yang lalu, The Lost Symbol (TLS), saya merasa dibuat sangat kesal. Ya, kesal karena di setiap chapter-nya selalu menimbulkan rasa penasaran.

https://images-na.ssl-images-amazon.com/images/I/51ZBXex9-6L._SX278_BO1,204,203,200_.jpg

Secara umum, TLS menceritakan tentang sebuah rahasia kebijakan kuno yang disembunyikan oleh kelompok persaudaraan Mason (Freemasonry). Freemasonry merupakan sebuah kelompok persaudaraan yang cukup terkenal, berkat hasil arsitektur megah dan penelitian jeniusnya. Sebuah piramida menjadi objek utama dalam novel ini, yang diyakini menyimpan rahasia tersebut.

Seperti biasa, tokoh sentral dalam novel ini adalah Roberts Langdon, seorang profesor yang sangat ahli dalam simbol, entah dalam bentuk kode maupun anagram. Langdon membawa novel ini menjadi sangat hidup, menceritakan berbagai rahasia dan pesan tersembunyi dalam lukisan maupun benda seni lainnya. Dan ia tahu bahwa benda seni khas dari kelompok Freemasonry adalah gedung-gedung yang menjulang tinggi di Amerika.

Alkitab menjadi dasar pemikiran dan penarikan kesimpulan, sekaligus koreksi dalam pemahaman atas benda-benda seni nan rahasia tersebut. Meskipun saya tidak bisa memahami Alkitab, namun ada satu hal yang sama dari novel ini dengan agama saya, Hindu. Hal ini menyebabkan saya mulai terhasut dengan kata pokok sekaligus dasar utama cerita dari seluruh dunia,

Kebenaran atas kedasaran universal

Tuhan merupakan sebuah rahasia yang dicari oleh semua manusia, dan salah satu simbol yang hilang pada piramida tersebut akan mengungkapkan menganai kaidah Tuhan dan berbagai kebijakan-kebijakan yang disembunyikan oleh misteri kuno.

Konsep mengenai Tuhan inilah yang menghubungkan Hindu dengan Alkitab. Tuhan merupakan sebuah kebenaran dan kesadaran yan dimiliki oleh manusia, dan diri kita sendiri adalah Tuhan itu. Seperti yang diatas, begitu pula yang dibawah. Seperti Pencipta, begitulah ciptaan-Nya.

Konsep dasar ini adalah konsep mengenai Atman. Tuhan menciptakan manusia dilengkapi dengan percikan kecil diri-Nya yang memberikan manusia jiwa, akal, dan pikiran untuk menjalani hidup. Percikan dari Tuhan yang dikenal dengan Atman menjadikan manusia sebagai Bhuana Alit (alam semesta yang kecil), sedangkan dunia atau Tuhan merupakan Bhuana Agung. Seperti yang diatas, begitu pula yang dibawah.

Pencarian Tuhan akan menghubungkan manusia dengan pencarian jati diri, mengenal percikan Tuhan yang ada dalam diri sendiri. Pada akhirnya, tujuan dari hidup adalah menyatukan percikan ini kembali ke pada sumbernya, yang dikenal dengan istilah Moksa. Pengertian ini sama artinya dengan Apotheosis, yanng diartikan diangkat sebagai tuhan, tapi pengertian metafora tersebut dapat diartikan sebagai menyatukan serpihan dari Tuhan yang ada dalam diri kita sendiri, melalui proses pencerahan (Apocalypse).

Novel ini lebih dari sekedar teori. Novel ini membawa sebuah refleksi diri akan keutamaan manusia di dunia, serta tujuan hidup manusia. Dasar-dasar sains dan rahasia yang ada di dunia dapat diketahui seperti dalam pencarian Tuhan, yaitu dimulai dari diri sendiri.

seperti yang di atas, begitu pula yang dibawah

https://i2.wp.com/pre03.deviantart.net/bbe4/th/pre/f/2009/264/9/b/the_hand_of_the_mysteries_by_bgates87.jpg

[MOVIE] Guardians of the Galaxy vol. 2: OUTSTANDING!

Although that was “so last year” if you watch comic-based movie that booming a couple months ago, I still want to make a reaction about this movie. I like superhero, both DC and Marvel, so please don’t make an argument about which the best.

I was born as a local kid of Indonesia, and grew up without influence of DC and Marvel. I met those superheros when in high school, getting more interested after watch Spiderman, Iron Man, Batman, and so on. I’m impressed with Batman TDK trilogy, but I must say if the combat that I watch was sooooooo bored for a man that mastering so many martial arts.

……. (time skip)

Then I watch Guardians of the Galaxy vol. 1. That kind of superheros I’ve never seen before, and not as famous as Batman in my kid-life. My reaction? That was a GREAT alternative option for superhero movie, and I want to see what’s happen next.

So today, I watch the entire Guardians of the Galaxy vol. 2 sec by sec. That was an OUTSTANDING movies! Star Lord lost his frame in this film (I think) because of the cute Groot are so catchy and attractive. Groot getting younger at the last credit, and I hope Marvel can find something that can replace the small Groot popularity.

 

Scenery? I think the Ego planet can bring some color in this movie, even the rest of the movie are not to interesting. But, I should give it an applause because of the all characters that bring  this movie alive. Emotion, identity, gesture, and voices are fit to every single character and shifting my attention from the monochrome background.

Mantis was so adorable! Mantis is the sweetest alien. That explain a lot.

Yondu and Ego are the plot-twist in this movie. There are no spoiler, because of this movie was replaced from the poster box of movie theater. That two characters giving a stand for “a family are the people around you that love you”.

Star Lord a.k.a. Peter Quill are the main character in this volume, but I should say if I admire Rocket than him. Rocket was a trap master, mechanic, and gun expert, also can running with hand (I assume he have 2 hand and 2 foot).

The other characters, and the new members of the guardians will play a massive role in the next movie. I cant wait any longer.

Oh yea, please don’t broke your friend’s music player. As Star Lord say “you shouldn’t … squeeze my Walkman!”

[COMIC-BASED REVIEW] DC vs Marvel

Film superhero sudah menjadi adonan wajib di bioskop dan warnet untuk meraup keuntungan. Tokoh di belakangnya siapa lagi kalau bukan DC dan Marvel. Sebenarnya banyak industri yang mengangkat tema superhero seperti Power Rangers, Kamen Rider, dan sebagainya. Tetapi, tokoh yang lahir dari DC dan Marvel selalu menjadi hits di hati masyarakat.

Continue reading

[COMIC-BASED REVIEW] GREEN ARROW series version

Pada awalnya, dengan melihat sepintas, saya membayangkan bahwa Arrow (yang kemudian lebih dikenal dengan Green Arrow) adalah superhero yang membosankan. Dengan bermodalkan panah, ia bertindak layaknya Robin Hood, hanya saja ia lebih banyak membunuh. Tetapi, setelah menonton sekuelnya di series ARROW, saya malah ketagihan dan mengikutinya hingga sekarang. Tokoh ini ternyata tidak membosankan, tetapi malah menegangkan. Ploting-nya hampir sama seperti Batman, melibatkan banyak superhero lain, bahkan supervillain DC, Ra’s al Ghul.

Continue reading

[NOTE] Pasti yang Tak Pasti

Note ini berisi tentang hal-hal menarik yang banyak saya dapatkan di grup media sosial. Ini adalah hasil copas (copy-paste), baik yang diketahui maupun tidak diketahui sumbernya. Kalimat ini untuk klarifikasi bahwa tidak ada maksud untuk melakukan plagiasi.

Tentang efisiensi dan ketidakpastian.

Continue reading